UTUH MENGHILANG

Sabtu, 22 Oktober 2011

Awalnya utuh
Kemudian semu
Kenyataan menjadi nanar
Lantas menghilang

Bentengmu membenarkan
Namun sudut lain menyalahkan
Menyalahkan?
Itu jiwa pengecut!
Bagaimana dengan tidak mau disalahkan?
Pengecut juga kah?

Kini . . .
Kagumku pupus
Peduliku rapuh
Alasan? Kutelan sendiri

2 komentar:

  1. Anonim mengatakan...:

    bersikap dewasa sepertinya perlu
    sama-sama dengan temanmu atau mungkin kekasihmu yang kamu maksudkan dalam blog ini
    ketika seiring berjalan,sama-sama ingin berubah dewasa,pasti tidak akan ada lagi hitam dan putih
    padahal mungkin ini kecil,bagaimana kalau memang teman atau kekasihmu pembunuh dan tidak ingin disalahkan
    ingat,masih banyak hal-hal jahat yang harus kita benci
    kalau masalah tidak ingin disalahkan,setiap orang pasti punya sisi ini,tapi ada yang disimpan di dalam hati ada pula yang ditunjukan daam bentuk ekspresi
    teruskan menulis Nurmala Sari

  1. Sungguh terkejut begitu tahu ada seseorang yang memberikan apresiasi terhadap tulisan saya.

    Terima kasih atas komentar Anda dan pasti akan saya ingat. Yah, memang saya harus selalu belajar dewasa untuk menyikapi suatu hal. Mungkin kita semua perlu untuk terus belajar dewasa.

    :D

Posting Komentar