KERIKIL KEBAHAGIAAN

Selasa, 13 September 2011

05 September 2011, pukul 04.30
Gue Hepi
                Saat buka mata, senyum gue terkembang dan pipi gue merona. Bukan karena malu akibat ledekan. Bukan juga karena alergi. Apalagi kemerahan pakai blush on. Baru bangun tidur jek, jadi kagak mungkin pakai begituan dan jangan pikir sebelum tidur gue pakai gituan. Sekedar info nih ye, gue adalah orang yang simple. Buat gue dandan cukup pakai pelembab dan bedak, alat make yang selebihnya gue sama sekali belum pernah pakai.
                Hari itu yang bikin gue hepi adalah hari ulang tahun gue. Hmmm seneng dan sedih sih. Seneng karena gue bersyukur masih bisa bernafas dan sedih karena jatah hidup gue berkurang. Usia gue kini menginjak kepala dua dalam arti yang harfiah. Sebelum gue tidur, gue sempet berdoa, “Ya Allah, Engkau maha mengetahui dan pasti Engkau tahu yang terbaik bagiku”, seketika mata gue berkaca-kaca. Inget usia yang sudah tua, hehehe. Lantas gue lanjutin doa gue, “Pada hari lahirku nanti, aku ingin hidupku menjadi lebih baik, ya Allah. Ibadahku pada-Mu juga menjadi lebih baik. Rasa sayang dan hormatku pada makhluk-Mu pun menjadi lebih baik, terlebih memandang profesiku di masa depan nanti. Ya Allah keinginanku tahun ini sungguhlah sederhana. Aku ingin jadi orang yang lebih baik. Kuharapkan ridha-Mu, ya Allah. Amin.” Demikian yang gue ungkap dalam hati dengan bulir air mata yang menetes. Gue ungkapin doa itu dalam ruangan gelap. Jangan harap gue mau nyokap liat gue dalam keadaan mewek peyek bak telenovela lawas karena gue pengen apa yang gue harapkan hanya gue dan Allah yang tahu.

05 September 2011, pukul 06.30
Kerikil Kebahagiaan
                Hari itu pun, gue tidak merayakan hari lahir gue di rumah. Gue hanya merenungkannya seorang diri dan mencari sedikit kerikil kebahagiaan di luar. Dengan kalimat gue yang seperti itu, jangan bayangin gue lagi mencakar-cakar tanah kayak ayam yang lagi cari cacing ye. Itu kiasan aje biar mantep dah. Hari Sabtu, 03 September 2011, gue memutuskan untuk ikut serta pergi bersama keluarga Ren Edogawa ke Taman Wisata Matahari pada Senin, 05 September 2011, yah tepat sekali pada hari lahir gue. Awalnya ogah ikut karena kepikiran tentang RPP* yang jadi tagihan buat praktik PPL di sekolah nanti. Tapi si Ren sedikit ngoceh, “Wuaaaa,,,gubrakkk! Aku aja blommm…”. Gue sudah bisa menebak ocehan dia akan seperti itu. Tapi untuk memantapkan hati gue cari-cari info dikit di mbah gugel. Dapat deh info yang bilang tempatnya asik buat menyegarkan pikiran. Langsung deh sms si Ren dan bilang bersedia. Gue butuh pencerahan sebelum masuk ke limbah kegalauan di sekolah nanti karena sikap dan sifat guru-guru di sana. Yah, sedikit aneh sih gue uring-uringan bukan karena kelakuan anak murid, tapi karena kelakuan guru yang bikin tekanan batin dan nafsu makan melorot. Alhasil sekarang gue dibilang kurus sama keluarga besar.

Minggu, 04 September 2011 pukul 08.00
Batu Ceper – Serpong
                Gue bangun pukul 05.00 WIB dan langsung melaksanakan sholat Shubuh. Biasanya sih gue akan tidur lagi setelah sholat, tapi karena gue sudah berencana main ke rumah Ren gue tetep melek. Biasanya juga nih sebelum main dalam waktu yang lama, gue pasti akan jadi ANAK BAIK-BAIK. Caranya dengan beres-beres rumah dulu, hehehehe. Jadi, setelah sholat, gue sapu dan pel lantai. Kemudian cuci piring dan biar oke, gue cuci motor kesayangan gue sebelum dipake. Biar si miu-miu keren, sekeren pemiliknya, yaitu GUE. Spik! Hahahaha. Gue berangkat ke rumah pukul 08.00 dan sebenarnya ada yang ganggu otak gue waktu itu.
                Jujur nih, sebenernya pengen banget ajak Shedy atau Friska untuk ikut main. Itung-itung ada yang nemenin gue ngobrol saat berkendara motor nanti, tapi karena waktu di twitter diajak kumpul tanggal empat atau lima pada bilang gak bisa, maka gue urungkan sms mereka sebelum berangkat. Yang benar-benar gue yakin enggak bisa ikut itu Friska. Karena menengok dari foto profil di twitter, dia lagi liburan di pantai yang entah gue gak tahu namanya dan sama siapa. Nah, tadinya mantep surantep pengen hubungin si Shedy, tapi tiba-tiba gue mikir, “Kalau dia belom bangun gimana? Pasti lama deh mandinya. Apa iya dia jam segini udah selesai ngebabu kayak gue? Ahhh pasti ngaret dia mah. Ogah ah nunggu dia.” Setelah berkelit dengan pikiran gue, ternyata sisi gue yang gak mau ajak dia menang. SORRY YA, SHEDY ELSHOUM YANG BAIK HATI, IMUT, DAN TIDAK SOMBONG. Jadi deh gue kembali ke rencana awal, pergi sendiri berkendara motor dari Batu Ceper ke Serpong. Perjalanan yang menurut gue singkat karena jalannya belum ramai seperti hari biasa. Maklum masih suasana lebaran dan mudik.

Senin, 05 September 2011 pukul 07.00
M-o-l-o-r
                Keluarga Ren dan gue tentunya sudah siap berangkat ke Taman Wisata Matahari (TWM) dengan rencana keberangkatan pukul 07.00 pagi. Gue gak telat dong secara gue tiba di rumah Ren pukul 06.30. Di saat inilah mood orang-orang yang menunggu diuji karena supir yang diharapkan datang tepat waktu ternyata masih ada di jalan pulang dan otomatis jam keberangkatan M-0-L-O-R. Biasa jam karet Indonesia. Hal itu sudah bisa gue tebak, tapi Ren memastikan gak ngaret. Sang supir yang ditunggu dan diharapkan bak badut yang bisa bahagiain anak-anak dateng juga. Jujur lagi nih, gue sudah ngantuk berat dan kepala gue sudah nempel di bantal Ren Edogawa. Coba sang supir yang gue lupa namanya datang 10 menit kemudian mungkin gue sudah pules sepules-pulesnya. Asal tahu aje nih ye, biasanya kalau lagi libur gini jam bangun gue itu antara pukul 9-11, hehehehe. Akhirnya kita semua berangkat pukul 09.00 menggunakan sebuah mobil kijang hitam yang diisi 11 orang. Bokap Ren, Nyokap Ren, Bi Inah, Mang Odik (gue baru inget nama sang supir), Osi, Fathir (Adik ketiga Ren), Ara (Adik kedua Ren), Wirda (Adik pertama Ren), Sisi (anak tetangga yang masih saudara Ren), Ren, dan gue tentunya.

GADIS BERFISIK CHINA ITU ISLAM

Senin, 04 Juli 2011

2005: Gadis Berfisik Cina itu Islam

Hari pertama masuk sekolah menengah kejuruan. Setelah melewati setengah hari di kelas, akhirnya jam istirahat tiba. Sedikit siswa yang lantas berlari menuju kantin sekolah. Maklumlah hari pertama belajar. Lagipula masih dalam suasana penyesuaian diri dengan habitat baru. Jadi, sebagian siswa memilih ngendon di kelas mempelajari situasi, termasuk gue, hahaha [ngeles padahal belum ada teman yang bisa diajak ke kantin :( ]. Kegiatan ngendon di kelas, gue pakai untuk memperhatikan tipe teman-teman baru. Orang pertama yang teridentifikasi adalah orang yang rupanya tidak asing bagi gue. Pernah gue lihat waktu di sekolah menengah pertama dulu dan namanya Riyanti. Yeah walaupun dulu tidak pernah sapa, tapi paling tidak gue tahu nama dia dari tag nama di kemeja sekolahnya ketika bersua di angkutan umum.

Hmmmm selanjutnya yang teridentifikasi adalah gadis berfisik cina yang tiba-tiba datang dengan sedikit berlari seperti dikejar hansip. Sampai di tempat duduk, ia buka tas dan mengambil buntelan berwarna putih (di sini agak lupa warna buntelan dia apa, tapi kayaknya dominan putih deh. Ya Allah gue sadar sejak itu mata gue sudah rabun). Tiba-tiba gadis kurus berjilbab berseru, “Shedy, sholat yuk!”. Jreng! Jreng! Gue terpukul dahsyat. Rasanya peristiwa itu mendadak slow motion, kayak ada yang jatoh di kepala dan mata kayak mau loncat dari lubangnya. Lantas gue tengokkan kepala ke arah Ocha, teman semeja gue dan dia cuma diam. Oke, itu menghancurkan adegan slow motion yang gue rasakan. Sadarlah gue kalau buntelan yang gadis berfisik cina keluarkan dari dalam tasnya tak lain dan tak bukan adalah mukena. TERNYATA GADIS BERFISIK CINA ITU ISLAM dan pergilah dia bareng gadis kurus berjilbab itu menuju mushola. Sumpah baru kali ini tebakan gue tentang seseorang meleset. Sigh. Ilmu cenayang gue memudar.

2011

Sekarang gadis berfisik cina yang ternyata Islam itu ada di sebelah gue. Kita makan siang bareng dan saling curhat. Hari ini gue memenuhi janji main ke kampusnya di daerah Grogol, Jakarta Barat dengan membolos satu mata kuliah. Jarang-jarang loh gue rela bolos begini kalau bukan untuk sahabat terbaik gue.

MASA 15 TAHUN LALU

Sabtu, 04 Juni 2011

2011

Mungkin orang lain akan bilang kalau itu hanyalah sebuah pukulan kecil. Mungkin orang lain akan bilang pukulan itu tak memiliki arti. Dan mungkin orang lain akan dengan cepat melupakan peristiwa pukulan itu. Namun, semua itu tak berlaku bagi shakeyla.

1996

Dia hanyalah seorang gadis kecil nan lugu berumur lima tahun. Diajak ayahnya memenuhi undangan ulang tahun seorang gadis kecil lain yang lebih muda beberapa tahun dari dirinya. Ia berpikir akan merasa bahagia di pesta ulang tahun itu. Tapi… sebuah peristiwa pemukulan di mana dia adalah korban membuyarkan apa yang dia pikir dan dia ingin. Gadis kecil yang hendak diberikannya salam dan selamat secara tiba-tiba memukulnya. Dia tak ingat pasti tangan kecil gadis itu mendarat di bagian tubuhnya yang mana, tapi yang diingatnya hingga kini adalah goresan sakit yang tertanam di otak, hati, dan jiwanya. Dia tak pernah tahu mengapa kenangan itu terus melekat. Kenangan lain di tahun yang sama tak sedikit pun ia ingat. Hanya itu, namun ketika ingat lagi dan lagi, ia merasa separuh jiwanya hilang, air matanya berurai, dan emosinya membuncah. Sejak peristiwa itu tak lagi dirasakan kasih sayang ayahnya yang seratus persen. Tak lagi ada perhatian ayah terhadapnya yang seratus persen. Tak lagi ada kenangan bersama ayahnya yang seratus persen. Semua yang seratus persen hilang dan yang baru tak pernah terukir hingga 15 tahun mendatang.

2011

Kini gadis kecil lain itu secara nyata duduk di sebelah Shakeyla. Berbagi sebuah cerita kecil tak penting padanya. Apakah gadis kecil itu ingat yang telah ia lakukan di masa 15 tahun lalu terhadap Shakeyla? Tidak! Meski gadis kecil itu lupa, tapi kenangan buruk itu terlanjur mengisi memori jangka panjang di otak Shakeyla.